Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

Thursday, March 13, 2008

Nonton Konser Lagi! Yang pertama sejak... udah berapa lama yah?

The Nightingale: Chamber Music Festival Indonesia 2008
-Erasmus Huis, Mar 12 2008, 19.30-finished

Nama acaranya kayak gitu. Udah pasti donk tentang muzik. Tapi muzik yang kayak apa? Hmm, karena acaranya yang cenderung unik (biasalah, acara yang diadain ama pusat kebudayaan asing di Jakarta itu biasanya unik - kalo ngga, pasti tiketnya ga gratis; kalau pun gratis, 1-2 hari setelah dipublikasi langsung abis bis bis... gue pernah ngalamin waktu mo nonton Patrizio Buanne - padahal waktu itu kagak tau orangnya kayak apa, nyanyi apa pulak - ; yang bikin tengsin, udah sok pede ngajakin 2 orang temen gue, taunya pas telpon mo konfirmasi, "maap Pak, sudah habis", gosh...)

Ok, sekarang tentang pengunjung potensial. Gue dulu (dan masih sih sampe sekarang) selalu berpendapat bahwa orang-orang aneh (hahaha...) yang menggemari muzik bergenre jazz (dan klasik, kadang-kadang) punya daya jangkau apresiasi muzik yang luarrr biasa luasnya (hahaha, me include not yah?). Tapi dengan semakin gencarnya promosi muzik jazz (dan terutama di Indonesia ini dalam 7-8-9-10 terakhir ini), mau ga mau daya jangkau genre ini pun "agak" diperluas (mungkin harusnya ga pake "agak" yah, karena sekarang lagu pop juga bisa diaku-aku jazz :(( ) demi menarik minat dan popularitas (dan sponsor, apalagi coba yang dicari?). Ok enough, gue akan curhat mengenai pengalaman gue ber-jazz-ria di Indo dalam posting terpisah, sekarang kembali fokus tentang resensi muzik aneh (hehehe...) ini dulu...

Buat yang suka nonton muzik beginian (definition please!) pasti bisa membayangkan pengunjung yang datang terbagi dalam beberapa segmen: kaum mapan yang berpakaian rapi, expatriat yang memang rumahnya deket situ (hehehe... this is foreign cultural centre, anyone?), dan... ini yang pasti: para seniman berambut gondrong (padahal yang nulis sekarang ini juga gondrong, dasar ga sadar diri!) yang berpakaian rapi (rapi menurut seniman lho yah; mohon pernyataan ini jangan diprotes), berani tarohan pasti anak IKJ!

Acaranya sendiri sempet molor setengah jam, sebelum akhirnya plus basa-basi, dimulai tepat 20.05, dengan karya Slamet A. Sjukur berjudul KUTANG. Temen gue yang kurang beruntung gue ajak tadi malem, NIKE - sebenarnya bukan nama - sampe nanya "Kutang artinya apa?"; gue sampe takjub, masa kutang aja ga tau... ternyata cuma ekspresi ketidakpercayaan aja, kok bisa-bisanya yah muzik kayak gitu ("kayak gitu"-nya ntar gue jelasin kayak apa) dinamain kutang; apalagi di buku acaranya dikaitkan secara tidak langsung dengan motif pembunuhan Hamlet dan Ophelia terhadap bapaknya. "Ngga banget deh," gitu kali kalo kata anak sekolah sekarang. Muziknya? Lebih ngga banget lagi... Gue sebenarnya berharap dengan lebih sering gue nonton pertunjukkan seperti ini, apresiasi seni gue akan terus melebar, tapi ternyata butuh lebih dari sekedar frekuensi menonton; yang seperti ini rupanya sudah di luar kemampuan manusia biasa (and by that, i mean everyone but artists - they're superman :D ). Ok, then came the next show...

Adalah sebuah karya yang mengiringi sebuah narasi berjudul "The Amazing Adventures of Baron von Munchhausen" yang dibawakan oleh Sitok Srengenge, salah satu seniman lokal terkenal. Narasi yang berupa dongeng ini dibawakan seakan-akan sedang menceritakan suatu kisah pengantar tidur kepada anak-anak, menarik dan tidak membosankan. Setelah itu, rehat sejenak 20 menit.

THE NIGHTINGALE - sebuah narasi karya Hans Christian Andersen, judul acara yang sekaligus memuncaki pertunjukkan ini, didahului prolog oleh pewayang terkenal (di buku acara sih tulisnya dia terkenal) Slamet Gundono, sosok gempal (mirip bang EBAN deh - nama yang ga bener -, sumpe bang, mirip banget!!!) asal Klaten yang kepolosan tuturnya mengundang tawa, walaupun pake bahasa Jowo, Jawa khas Tegal yang bercampur Sunda, yang gue aja kurang ngerti... Setelah itu kiprahnya hanya mewayang di balik layar, sedangkan narasi kembali dibawakan oleh Sitok. Setelah narasi selesai, kembali Slamet melagukan epilog pementasan ini, yang juga menutup pertunjukkan kali ini.

Hujan deras mungkin memacetkan Jakarta hari itu. Tapi berjuang di belantara kota, untuk kemudian mengakhiri hari dengan menikmati pertunjukkan seni seperti itu benar-benar menjadi penawar yang mengasyikkan (terutama untuk cacing-cacing di perut Nike, yang belon dapet jatah dari siang), thanks to all the artists and everyone for making it possible to show. Nice pieces of work, GOD bless you all.

'Twas a nice day for me, wasn't it for you?