Showing posts with label muzik. Show all posts
Showing posts with label muzik. Show all posts

Saturday, August 30, 2008

Bach In Bali (KOnSer dan TaRian) -- Goethe-Haus 29 Agustus '08

Lagiii......


Ngebayanginnya pun gue males, tapi kalo ada tawaran langsung, dengan iming-iming "free", napa ngga juga yak? Hehehe... Begitulah, bukan aneh lagi sih (tapi "aneh buangeddd" :D ) ada undangan nonton pertunjukkan seni di Goethe-Haus, Menteng, bertitel "Bach di Bali -- Robert Brown (Biola) & Nyoman Sura (Tari)". Berikut adalah deskripsi acaranya:

„Partita dalam d-moll untuk biola solo“ ditulis oleh Johann Sebastian Bach dalam kurun waktu 1717-1723 dan meliputi 5 bagian yang diakhiri dengan Ciaccona yang terkenal: Allemanda, Corrente, Sarabanda, Giga dan Ciaccona. Robert Brown memainkan kelima bagian ini, dan mengembangkan cerita untuk tarian yang dibawakan oleh Nyoman Sura dalam “Bach di Bali”.

Di bagian pertama, Allemanda yang lebih bebas dan meditative, Bach mengamati sekelompok penari dan pemusik Bali, yang dibawa oleh orang Belanda ke Jerman dan Bach kagum pada kecantikan mereka yang eksotis. Didorong rasa ingin tahu, dari mana mereka berasal, Bach memutuskan pergi ke Bali dengan kapal.

Bagian kedua, Corrente yang bergejolak, menunjukkan badai di lautan – dilatar belakangi musik yang lembut, sebelum kapal memasuki pelabuhan Bali.

Bagian ketiga, Sarabanda yang seremonial dan agung menunjukkan bagaimana raja Bali menyambut tamunya yang datang dari Eropa. Di akhir bagian ini Bach dan seorang ratu Bali saling berbisik, mereka berjanji akan bertemu kembali.

Bagian keempat, Giga, merupakan tarian pesta yang sangat hidup, yang biasa di pertunjukkan oleh raja Bali kepada para tamunya.

Bagian kelima, Ciaconna yang mencekam, sangat panjang dan penuh perubahan. Dalam bagian ini, Bach mencoba meyakinkan putri Bali yang dicintainya untuk ikut ke Jerman. Bagian ini memiliki saat-saat yang istimewa, a.l. mengingatkan kita akan musik orgel di gereja, misalnya ketika Bach memberitahu sang ratu akan nasibnya sebagai pemusik dalam pelayanannya di gereja di Jerman. Bagian ini berakhir dengan penolakan sang ratu meninggalkan tanah airnya.



Mengenai pertunjukkannya... Buat gue yang baru sekali ini nonton acara dalam kemasan seperti ini, jelas beda yah (komentar ga mutu dari bukan seorang kritikus seni yang handal)

Thursday, March 27, 2008

KUNOKINI - Yang Unik, Yang Aneh

Pagelaran Musik Perkusi Etnik “KunoKini”
WedsNight @ BentaraBudayaJakarta


Ya unik acaranya, ya aneh-aneh juga penontonnya... Ada yang pake pakaian tradisional (ya iyalah, karena musiknya agak berbau tradisional sih, lagian kan mereka panitianya, jadi lebih ngerti lah, masa panitia salah kostum??), ada yang pake kombinasi modern-tradisional (kebanyakan bagus sih, cocok dan modis, tapi ada satu yang "kurang enak dipandang"), mayoritas gondrong (bener-bener salah timing potong rambut neh :((( ), beberapa rapi (termasuk gue!!! gosh, salah kostum neh, huhuhu... mana tadi di kantor pake nyemir spatu dulu lagi, padahal udah filing sih bakal beda banget suasananya ama yang di erasmus minggu lalu -> see my previous blog). Tapi buat best costume of the night, gue vote buat bapak-bapak (yah, middle-40 lah), pake kaos oblong biru tua, yang dimasukkin ke celana bahan berikatpinggangkan kulit, yang dimasukkan ke sepatu ketsnya (bayangin dulu deh celana yang dimasukkin ke sepatu :D )

Sesi pertama dimulai "agak" telat, katanya nunggu undangan dulu. Ya udah deh, akhirnya dimulai juga jam 19.55 pake kata sambutan ucapan terima kasih buat sponsor yang membuat grup ini mampu pentas ke aussie... (padahal tu undangan ternyata baru dateng pas udah mo mulai, kira-kira 5 menit kemudian; gue tau karena tu undangan duduknya persis di belakang gue... dan ga nyadar juga kalo gue itu duduknya di kursi VIP :)) ternyata ada hikmahnya juga pake baju rapi)

Ok, mulai!
Lagu pertama (04:55) kurang jelas judulnya, sangat etnik (soalnya ga ada alat musik melodinya sama skali!). Lanjut lagu kedua (03:40), juga ga jelas, tapi udah mulai pake alat musik melodi, sejenis gamelan, karena cuma punya 7 bilah (tapi kalo denger suaranya, kok lebih deket ke kolintang yah?). Trus disusul ama "Lagu Jawa", katanya terinspirasi dari gempa di Jogja (aduh, yang ini apa lagu yang sesudah ini yah? sori lho kalo salah...) (07:40), cukup menggambarkan ke-jawa-annya dengan baik. Kalo aja gue ga kebelet pipis, pasti lagu ini ga terasa lama, karena dimainkan dengan harmoni yang indah.

Kemudian ada sedikit rekomposisi di panggung, now they played with vocal, dan juga tarian; masuk dua orang pesinden (abis posisinya sinden banget!!), satu cowo satu cewe, dengan satu vokalis utama cewe, merangkap penari. Lagunya juga ga ngeh judulnya apa (18:11), tapi yang jelas makin memperkuat hasrat gue untuk... pipis!!!


Ada jeda sejenak dua jenak, mereka ngobrol di panggung, gue pipis dulu deh...

Berikutnya (10:11), adalah komposisi yang gue incer dari awal, karena di video pra-pertunjukkan gue liat dan gue paling demen yang ini, ampir telat tadi masuknya gara-gara lalu lintas di luar cukup padat.

then came the...
--break--

Sesi kedua dimulai dengan sesuatu yang "kurang lazim", karena ada gitar ikut bermain (06:40), dengan irama yang nge-bossas, asik men! Setelah berdendang dengan instrumen di menit awal, ternyata liriknya adalah "gundul pacul gembelengan" yang dinyanyikan berulang-ulang (note: liriknya hanya 3 kata itu saja, bukan lirik lagu "gundul pacul" yang sebenarnya...), cukup mengundang tawa dan impresif. Disusul lagu R&B (05:50), "Souljah" (WOW!!!), with additional vocalist yang jago nge-rap (ya ga nge-rap betulan sih, ga kayak orang ngomel gitu), yang membuat suasana tambah panas di dalam sana (ngajak joged-joged sih, tapi cuma 2-3 orang yang berani malu). Lalu sedikit cooling down dengan lagu "Feeling The One" (06:00) yang mengajak kita untuk menyingkirkan perbedaan dan mengutamakan persatuan.

... ngobrol lagi tiga jenak, trus mereka ngeluarin lagu melodius nan sedih...

"Sahabat" (08:00) bercerita tentang kepergian sahabat yang takkan kembali lagi, bener-bener membuat gue menitikkan air mata...

udah begini, ga ada yang nyangka mereka bakal ngocol lagi... but they did!

"Bluyamko" (04:20), katanya judulnya itu (ga tau kalo gue salah denger), agak aneh juga, karena di depannya berlirik inggris; taunya... di belakangnya ada "Yamko Rambe Yamko"!!! Wah, boong banget deh kalo lo bilang lo ga tergugah rasa nasionalismenya pas denger lagu itu. Apalagi pas di akhir lagu vokalisnya bilang: "daripada kita ribut sana-sini, langsung aja mainin lagunya; mereka boleh klaim sesuka mereka, tapi ini budaya kita" (kira-kira begitcu; maaph kalo ga persis, gue emang suka improvisasi kelewat batas)

Abis dia ngomong begitu, sebenernya udah ketebak donk apa yang selanjutnya: "RASA SAYANGE"! (03:24)(02:15) Tapi ada sedikit apresiasi juga buat "para wanita di belakang pria-pria sukses ini" (ada yang aneh: yang di panggung 4 cowo, napa cewe yang ditarik cuma 3?? oo, ternyata yang 1 masih jomlo =)) ). Kali ini jogednya lebih liar. Yang joged juga mulai nyeret-nyeret temennya ke atas panggung (wah, kalo gue ga salah kostum, rasanya mau aja tuh bernorak-norak bergembira ria di situ...). Trus acaranya ditutup kayak model pertunjukkan di tipi-tipi gitu: pembawa acaranya masuk pas lagunya masih main, ngucapin terima kasih dan sampai jumpa, trus pas mereka pergi, musiknya belum selesai.

Udah deh, penutupnya bener-bener pas! Tapi show yang bagus biasanya memang menyimpan pamungkas kalo-kalo ada "curanmor" (we want more, maksudnya...), jadilah encore! (03:15) (gara-gara keseringan main "Guitar Hero" nih, jadi deh apa-apa encore, apa-apa encore!) Kalo yang ini, rasanya udah ga malu-malu lagi tu orang-orang di situ (yang memang komunitas fans mereka semua), udah liar abis-abisan deh, mana liriknya - kalo gue ga salah denger - bener-bener serasa membawa pendengarnya ke flower generation (WOODSTOCK, booo!!!): "babe, i want to f*** you!"


Thankyou KunoKini, thankyou BentaraBudaya, thankyou catering, and thankyou An (inisial yang tidak sebenarnya)!

Then i went home satisfied... and hungry!

What a nice ending to my lovely day!


Footnote: untung pulangnya gue beli ketoprak, karena di rumah makan malamnya ternyata... botox (yaiks, i hate it!) - so i still had a happy ending yesterday :D


Thursday, March 13, 2008

Nonton Konser Lagi! Yang pertama sejak... udah berapa lama yah?

The Nightingale: Chamber Music Festival Indonesia 2008
-Erasmus Huis, Mar 12 2008, 19.30-finished

Nama acaranya kayak gitu. Udah pasti donk tentang muzik. Tapi muzik yang kayak apa? Hmm, karena acaranya yang cenderung unik (biasalah, acara yang diadain ama pusat kebudayaan asing di Jakarta itu biasanya unik - kalo ngga, pasti tiketnya ga gratis; kalau pun gratis, 1-2 hari setelah dipublikasi langsung abis bis bis... gue pernah ngalamin waktu mo nonton Patrizio Buanne - padahal waktu itu kagak tau orangnya kayak apa, nyanyi apa pulak - ; yang bikin tengsin, udah sok pede ngajakin 2 orang temen gue, taunya pas telpon mo konfirmasi, "maap Pak, sudah habis", gosh...)

Ok, sekarang tentang pengunjung potensial. Gue dulu (dan masih sih sampe sekarang) selalu berpendapat bahwa orang-orang aneh (hahaha...) yang menggemari muzik bergenre jazz (dan klasik, kadang-kadang) punya daya jangkau apresiasi muzik yang luarrr biasa luasnya (hahaha, me include not yah?). Tapi dengan semakin gencarnya promosi muzik jazz (dan terutama di Indonesia ini dalam 7-8-9-10 terakhir ini), mau ga mau daya jangkau genre ini pun "agak" diperluas (mungkin harusnya ga pake "agak" yah, karena sekarang lagu pop juga bisa diaku-aku jazz :(( ) demi menarik minat dan popularitas (dan sponsor, apalagi coba yang dicari?). Ok enough, gue akan curhat mengenai pengalaman gue ber-jazz-ria di Indo dalam posting terpisah, sekarang kembali fokus tentang resensi muzik aneh (hehehe...) ini dulu...

Buat yang suka nonton muzik beginian (definition please!) pasti bisa membayangkan pengunjung yang datang terbagi dalam beberapa segmen: kaum mapan yang berpakaian rapi, expatriat yang memang rumahnya deket situ (hehehe... this is foreign cultural centre, anyone?), dan... ini yang pasti: para seniman berambut gondrong (padahal yang nulis sekarang ini juga gondrong, dasar ga sadar diri!) yang berpakaian rapi (rapi menurut seniman lho yah; mohon pernyataan ini jangan diprotes), berani tarohan pasti anak IKJ!

Acaranya sendiri sempet molor setengah jam, sebelum akhirnya plus basa-basi, dimulai tepat 20.05, dengan karya Slamet A. Sjukur berjudul KUTANG. Temen gue yang kurang beruntung gue ajak tadi malem, NIKE - sebenarnya bukan nama - sampe nanya "Kutang artinya apa?"; gue sampe takjub, masa kutang aja ga tau... ternyata cuma ekspresi ketidakpercayaan aja, kok bisa-bisanya yah muzik kayak gitu ("kayak gitu"-nya ntar gue jelasin kayak apa) dinamain kutang; apalagi di buku acaranya dikaitkan secara tidak langsung dengan motif pembunuhan Hamlet dan Ophelia terhadap bapaknya. "Ngga banget deh," gitu kali kalo kata anak sekolah sekarang. Muziknya? Lebih ngga banget lagi... Gue sebenarnya berharap dengan lebih sering gue nonton pertunjukkan seperti ini, apresiasi seni gue akan terus melebar, tapi ternyata butuh lebih dari sekedar frekuensi menonton; yang seperti ini rupanya sudah di luar kemampuan manusia biasa (and by that, i mean everyone but artists - they're superman :D ). Ok, then came the next show...

Adalah sebuah karya yang mengiringi sebuah narasi berjudul "The Amazing Adventures of Baron von Munchhausen" yang dibawakan oleh Sitok Srengenge, salah satu seniman lokal terkenal. Narasi yang berupa dongeng ini dibawakan seakan-akan sedang menceritakan suatu kisah pengantar tidur kepada anak-anak, menarik dan tidak membosankan. Setelah itu, rehat sejenak 20 menit.

THE NIGHTINGALE - sebuah narasi karya Hans Christian Andersen, judul acara yang sekaligus memuncaki pertunjukkan ini, didahului prolog oleh pewayang terkenal (di buku acara sih tulisnya dia terkenal) Slamet Gundono, sosok gempal (mirip bang EBAN deh - nama yang ga bener -, sumpe bang, mirip banget!!!) asal Klaten yang kepolosan tuturnya mengundang tawa, walaupun pake bahasa Jowo, Jawa khas Tegal yang bercampur Sunda, yang gue aja kurang ngerti... Setelah itu kiprahnya hanya mewayang di balik layar, sedangkan narasi kembali dibawakan oleh Sitok. Setelah narasi selesai, kembali Slamet melagukan epilog pementasan ini, yang juga menutup pertunjukkan kali ini.

Hujan deras mungkin memacetkan Jakarta hari itu. Tapi berjuang di belantara kota, untuk kemudian mengakhiri hari dengan menikmati pertunjukkan seni seperti itu benar-benar menjadi penawar yang mengasyikkan (terutama untuk cacing-cacing di perut Nike, yang belon dapet jatah dari siang), thanks to all the artists and everyone for making it possible to show. Nice pieces of work, GOD bless you all.

'Twas a nice day for me, wasn't it for you?